Mengenal Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits

Image
Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits bin Hazn al-Hilali adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Nabi shalallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak banyak yang mengenal wanita bangsawan Bani Hilal ini. Sekarang, mari kita mengenalnya. Karena ia adalah ibu kita, ibu orang-orang yang beriman. Nasabnya Ummul Mukminin Maimunah merupakan putri dari al-Harits bin Hazn bin Bujair bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal. Beliau lahir 29 tahun sebelum hijrah dan wafat tahun 51 H. Bersamaan dengan 593 M dan wafat tahun 671 M. Ibunya bernama Hind binti Auf bin Zuhair bin al-Harits bin Hamathah bin Humair. Saudara kandung Ummul Mukminin Maimunah adalah Ummul Fadhl Lubabah al-Kubra binti al-Harits yang merupakan istri dari al-Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Lubabah ash-Shugra Ashma binti al-Harits. Ia adalah istri dari al-Walid bin al-Mughirah dan ibu dari Khalid bin al-Walid Saifullah radhiallahu ‘anhu. Kemudian Lubabah ash-Shugra menikah ...

Selamatkan Rupiah Dengan Dirham


Lahir sebagai negara baru, 1946, Republik Indonesia mengadopsi model yang sama dengan negara lain. Yakni ada bank sentral, dengan monopoli hak mencetak uang kertas, serta ngutang untuk membiayai hidupnya.  Para pendiri NKRI  menetapkan BNI 46 sebagai Bank Sentral,  memonopoli menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), dengan janji tiap Rp 2 bernilai satu gram emas.
.
Bankir internasonal menolak BNI 46, sebagai bank negara NKRI. NKRI dipaksa berunding dengan dunia internasional. Setelah menyerah dalam Konferensi Meja Bundar (1949), sebagai syarat pengakuan atas RI, BNI 46 diganti bank swasta milik Belanda, De Javasche Bank, yang  mulai 1952 diubah jadi Bank Indonesia. ORI pun diganti UBI (Uang Bank Indonesia). Tidak ada yang tahu siapa pemegang saham De Javasche Bank yang telah jadi BI itu. Yang pasti saat ini  BI sebagai otoritas moneter,  tidak ada sangkut pautnya dengan Pemerintah RI lagi. Disisakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dibentuk kemudian untuk urusan teknis dan tetek bengek administrasi dan pengawasan lembaga jasa keuangan.
.
Begitu diakui (1949) rupiah dipatok Rp 3.8 per dolar AS. Saat ORI jadi UBI (1952) rupiah melorot ke Rp 11.4 per dolar. Sepanjang waktu rupiah terus melorot sampai Rp 45 (1959), sempat melesat ke Rp 0,25 (1965), berkat sanering (Rp 1000 menjadi Rp 1) oleh Presiden Soekarno.
.
Selama Orde Baru atas order IMF dan Bank Dunia rupiah berkali-kali didevaluasi. Pada 1970 jadi Rp 378, 1971 jadi Rp 415, 1978 merosot lagi 55%, jadi Rp 625; didevaluasi lagi September 1983, 45%, jadi Rp 970 per dolar AS. Pada 1986 bertengger di Rp 1.660/dolar AS.
.
Masuk akal gak sih, para pemimpin memiskinkan rakyatnya sendiri, dengan sengaja? Tapi itu berkali-kali terjadi. Karena harus nuruti ndoro-ndoro bankir internasional, penguasa yang sesungguhnya.

Dari waktu ke waktu  rupiah terus terdepresiasi, mencapai Rp 2.200 per dolar AS sebelum ’Krismon’ 1997. Rupiah lalu ’terjun bebas’ pertengahan 1997, dan sejak itu terus terombang-ambing – lagi-lagi atas kemauan tuan IMF dan Bank Dunia – dalam sistem kurs mengambang dengan titik terendah Rp 16.000, awal 1998. Saat ini mendekati Rp 14.300. .
Selematkan dengan dinar & dirham.

Comments

Visitor

Online

Related Post