Mengenal Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits

Image
Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits bin Hazn al-Hilali adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Nabi shalallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak banyak yang mengenal wanita bangsawan Bani Hilal ini. Sekarang, mari kita mengenalnya. Karena ia adalah ibu kita, ibu orang-orang yang beriman. Nasabnya Ummul Mukminin Maimunah merupakan putri dari al-Harits bin Hazn bin Bujair bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal. Beliau lahir 29 tahun sebelum hijrah dan wafat tahun 51 H. Bersamaan dengan 593 M dan wafat tahun 671 M. Ibunya bernama Hind binti Auf bin Zuhair bin al-Harits bin Hamathah bin Humair. Saudara kandung Ummul Mukminin Maimunah adalah Ummul Fadhl Lubabah al-Kubra binti al-Harits yang merupakan istri dari al-Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Lubabah ash-Shugra Ashma binti al-Harits. Ia adalah istri dari al-Walid bin al-Mughirah dan ibu dari Khalid bin al-Walid Saifullah radhiallahu ‘anhu. Kemudian Lubabah ash-Shugra menikah ...

Menjadi Orang Soleh

Sebelum menjadi orang yang shalih, cari istri / suami yang shalih dulu ya gaesss 😊
.
# Pengaruh Keshalihan Orang Tua Pada Anak-Cucu

Banyan orang tua yang ingin anak shalih
Mereka tidak berusaha menjadi orang tua yang shalih

Keshalihan orang tua menjada keshalihan anak-keturunan dengan izin Allah

Selama ini kita percaya bahwa bentuk fisik dan beberapa sifat akan diturunkan kepada anak-anak dan cucu. Karena ada pepatah

Buah itu tidak bisa keluar dari pohonnya

Selektif memilih pasangannya agar menghasilkan keturunan anak-anak yang berkualitas baik fisik dan sifatnya. Akan tetapi perlu diingat bahwa keshalihan juga bisa diturunkan. Karena keshalihan bapak-ibu atau kakek-nenek, Allah mempertahankan anak-anak mereka dan cucu mereka kelak juga menjadi orang yang shalih.

Bisa kita lihat terjemahannya dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,
.
“Wujud dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi rerata, sedang diperhitungkan adalah seorang yang saleh” (QS. Al Kahfi: 82)
.
Al-Qurthubi meningatkan,
.
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta'alamenjaga keshalihan seseorang dan menjaga keshalihan anak keturunannya jauh darinya [beberapa generasi setelahnya –pent]. Diriwayatkan [dalam kisah pada ayat] bahwa Allah menjaga keshalihan pada generasi ketujuh dari keturunannya. ”1
.
Bahkan ada beberapa ulama yang menjelaskan bahwa tidak mesti keshalihan orang tua atau kakek-nenek. Akan tetapi keshalihan kakek buyutnya beberapa generasi sebelumnya.

Comments

Visitor

Online

Related Post